Saturday, June 8, 2013

ASI

8 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI


8 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI
   Pemberian ASI bukan hal yang mudah bagi seorang ibu. Beberapa hambatan ditemukan justru di awal kelahiran bayi. Padahal kesuksesan pemberian ASI nantinya tergantung pada awal pemberian ASI. Selain dari ibu dan bayi, banyak faktor lain dalam keberhasilan pemberian ASI seperti dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.
Di Indonesia sendiri Kementerian Kesehatan menargetkan cakupan ASI eksklusif sebesar 80% dianggap masih sulit terlaksana. Berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI harus diantisipasi sejak awal seperti tahap-tahap berikut ini.
Inisiasi Dini
Pemberian ASI sejak dini sangat dianjurkan dilakukan oleh setiap ibu setelah melahirkan. Bayi yang lahir cukup bulan akan mempunyai naluri untuk menyusu kepada ibunya pada 20-30 menit setelah lahir. Minta bantuan perawat atau bidan Anda untuk meletakkan bayi di atas perut sesaat setelah dia lahir. Dia akan mampu mencari payudara dan menyusu dengan baik selama kurang lebih 50 menit.
Rawat Gabung
Jika tidak ada masalah medis, perawatan ibu dan bayi dapat dilakukan selama 24 jam bersama dalam satu tempat tidur atau satu ruangan. Kontak fisik yang sering dilakukan pada bayi akan menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI. Pastikan bayi dapat menyusu pada satu jam pertama setelah dia lahir. Ini akan berpengaruh pada keberhasilan pemberian ASI selanjutnya.
Memerah ASI
Jika Anda kesulitan menyusui pada awal kelahiran, minta perawat atau bidan untuk membantu Anda memompa atau memerah ASI. Biasanya dilakukan 10-20 menit tiap 2-3 jam sekali, hingga bayi dapat menyusu.
Berpikir Positif dan Ciptakan Suasana Menyenangkan
Buang emosi, rasa cemas, dan panik agar dapat memotivasi Anda dalam pemberian ASI. Bayi tidak akan mendapatkan cukup ASI jika hanya mengandalkan refleks prolaktin saja. Namun hormon oksitosin yang dipengaruhi pikiran dan perasaaan Anda, dapat merangsang otot saluran ASI agar berkontraksi dan kelenjar susu dapat keluar dengan lancar.
Menyusui Setelah Operasi Cesar
Keadaan tidak cukup sadar dan kondisi luka operasi salah satu hambatan dalam proses menyusui pada awal melahirkan. Bayi pun terpengaruh obat yang diberikan oleh ibunya sehingga dia akan sering mengantuk. Tetap susui bayi sesering mungkin agar proses menyusui sukses berjalan hingga akhir.
Susui Kapanpun Bayi Menginginkannya
Pada pagi hingga siang hari, susui bayi tiap 2-3 jam sekali, dan 4-5 jam sekali pada malam hari. Ini disebabkan lambung bayi berukuran kecil, sehingga membuatnya mudah lapar. Umumnya bayi menyusu selama 20-40 menit.
Atur Jadwal
Disela waku menyusui, Anda dapat beristirahat saat bayi sedang tidak menyusui. Semakin bertambahnya usia bayi, Anda akan mengetahui pola menyusui bayi, sehingga memudahkan untuk mengatur jadwal istirahat. Pola menyusui ini akan terus berubah sesuai dengan petumbuhan bayi.
Dukungan Keluarga
Keberhasilan menyusui juga dipengaruhi dukungan dari keluarga maupun suami. Terkadang banyak nasihat yang diberikan oleh orang tua, dan keluarga lainnya. Dengarkan pengalaman mereka sebagai masukan yang bermanfaat bagi program menyusui Anda. Bila menghadapi kritikan dan tekanan yang tidak mendukung dalam pemberian ASI, hadapi dengan bijaksana agar tidak menambah panik dan bingung.

MASA NIFAS 40 HARI

Ibu nifas



Pengertian Masa Nifas: Perlu 40 Hari untuk Memulihkan Rahim

   Pengertian masa nifas sederhananya adalah masa pasca persalinan. Setelah proses persalinan selesai, saatnya bagi rahim untuk menjalani proses pemulihan. Proses pemulihan rahim dan alat-alat reproduksi membutuhkan waktu yang berbeda-beda setiap orangnya.
Proses mengecilnya kembali rahim ke ukuran semula tentu akan berlangsung secara bertahap. Masa nifas biasanya berlangsung sekitar 40 hari. Selama masa nifas, vagina akan terus-menerus mengeluarkan darah yang mengandung trombosit, sel-sel tua, sel-sel mati (nekrosis), serta sel-sel dinding rahim (endometrium), yang disebut lokia.
Apa saja tahapan-tahapan perubahan lokia dalam masa nifas? Berikut ulasannya.
  1. Lokia kubra
Proses ini berlangsung selama tiga hari pertama setelah melahirkan. Darah pada tahapan pertama ini berwarna merah segar dan berpotensi mengandung banyak kuman penyakit.
  1. Lokia sanguinolenta
Pada tahapan kedua ini, darah berwarna merah dan berlendir. Proses ini berlangsung selama 1-2 minggu.
  1. Lokia Serosa
Pada tahapan ini, cairan biasanya berwarna kuning kecoklatan lalu merah muda. Cairan berwarna ini biasanya mulai keluar dua minggu hingga satu bulan setelah melahirkan.
  1. Lokia alba
Cairan berwarna kekuningan lalu bening keluar selama sekitar dua minggu. Berlangsung dari minggu keempat hingga minggu keenam. Jika cairan lokia sudah berwarna bening, maka masa nifas Anda berlangsung normal.
   Pengertian masa nifas ternyata bukan hanya terkait masa pemulihan reproduksi. Dalam hal ini, Anda harus siap menerima tantangan baru sebagai seorang ibu. Lakukan pemeriksaan rutin pasca melahirkan dan hindari melakukan aktivitas terlalu berat.  

FISIOLOGI KEHAMILAN


FISIOLOGI KEHAMILAN



Kehamilan adalah suatu proses dimana sebuah sel mani membuahi telur menjadi satu sel di sepertiga bagian distal saluran telur, kemudian membelah menjadi beberapa sel disebut morula dan selanjutnya sebagai blasokist melakukan implantasi pada dinding rahim dimulai dengan perkembangan dan pertumbuhan mudigah sampai janin cukup bulan yang berlangsung selama 9 bulan (±4 minggu). Selama masa tersebut dalam tubuh ibu terjadi perubahan dalam rangka menyiapkan zat nutrisi dan hormonal dalam menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin.
Kehamilan dibagi menjadi 3 periode, yaitu:

1.      Trimester I (konsepsi-12 minggu). Pada minggu ke 4-6 banyak wanita yang tidak menyadari kehamilannya. 3 bulan pertama dimulainya perubahan tubuh seorang wanita, morning sickness, adanya pembesaran payudara, sering BAK, cepat lelah dan letih, serta mulai pertambahan berat badan.
2.      Trimester II, dirasakan lebih comfortable bagi ibu hamil, clostrum mulai diproduksi, dan berpotensi mengalami infeksi saluran kemih dan varises.
3.      Trimester III, janin tumbuh semakin besar, sering kram, sering BAK, mulai merasakan kontraksi dan bernapas pendek-pendek.
Perubahan fisik dan fisiologis kehamilan sangat bersifat individual dan sangat unik, akan tetapi secara keseluruhan setiap calon ibu akan mengalami perubahan-perubahan alamiah yang akan menimbulkan gangguan serta penurunan kemampuan untuk menjalankan peran dan fungsinya. Perubahan-perubahan yang terjadi antara lain:
1.    System reproduksi ditandai dengan uterus tumbuh membesar, hipervaskulatisasi pada vagina/vulva, ovarium diambil alih oleh plasenta, mammae mengalami hiperplasi system duktus dan jaringan intersisial.
2.    System pernapasan ditandai dengan peningkatan kebutuhan oksigen sampai dengan 20%. Karena diafragma terdorong kearah cranial terjadi penurunan pemenuhan dada sehingga terjadi hiperventilasi dangkal 45% (20-24x/menit). Volume residu paru dan kapasitas vital menurun. Edema nasofaring serta kongest hidung.
3.    System gastrointestinal ditandai dengan perubahan-perubahan antara lain:
a.    Mual dan muntah yang terjadi akibat naiknya β HCG dan Estrogen. Pada keadaan patologik tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10x/hari (hiperemesis gravidarum).
b.    Ptialisme adalah komplikasi tidak biasa yaitu hipersalivasi. Kehilangan 1-2 liter/hari akibat berkurangnya aktivitas menelan.
c.    Epulis gravidarum: apat terjadi perdarahan, dan menghilang pasca partum.
d.   Pirosis (nyeri ulu hati): tonus esophagus menurun, tekanan lambung meningkat, dan refluks meningkat.
e.    Penyakit ulkus peptikum
f.     Hemorrhoid : tekanan darah vena meningkat, konstipasi meningkat.
g.    Perubahan hepatic: albumin menurun, alkali fosfatase meningkat, kolesterol meningkat 2 kali lipat, serta fibrinogen meningkat 50%.
h.    Perubahan peristaltic dengan gejala sering kembung, konstipasi, lebih sering lapar/perasaan ingin makan terus, juga akibat peningkatan asam lambung.
4.    System kardiovaskuler ditandai dengan peningkatan denyut nadi, CO meningkat sampai 20-40%, tekanan darah menurun sampai gestasi 24 minggu, kemudian meningkat sapai 10-15 mmHg saat kontraksi uterus intra-partum. Sesak napas dan mudah lelah.
5.    System metabolisme, perubahannya antara lain peningkatan kebutuhan karbohidrat, protein, kalsium, fosfor, dan magnesium. Kadar kolestrol plasma meningkat sampai 300 g/100 ml.
6.    System genitourinaria, ukuran ginjal bertambah 1 cm, ureter membesar, filtrasi meningkat sampi 60-150% (poliuria), ekskresi glukosa meningkat, Kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. Tonus otot-otot Ureter menurun akibat pengaruh estrogen dan progesteron. Dinding saluran kemih dapat tertekan oleh perbesaran uterus, menyebabkan hidroureter dan mungkin hidronefrosis sementara.
7.    Perubahan pada kulit, rambut, dan mata. Peningkatan aktifitas melanophore stimulating         hormone menyebabkan           perubahan berupa hiperpigmentasi pada         wajah (kloasma         gravidarum), payudara            (areola), aksila, linea alba ( linea grisea),         striae lividae pada         perut, dsb. Tekanan intraokuler meningkat. Ketebalan kornea meningkat.  
8.    Perubahan hematologik plasma. Volume plasma meningkay 50% pada usia gestasi 32 minggu, anemia fisiologik, leukosit meningkat, dan hiperkoagulasi relative (fibrinogen meningkat 50%).
9.    System endokrin, Resistensi insulin pada kehamilan, metabolisme lemak: lipolisis (hPL) meningkat.
10.     System neurologi, terjadi penekanan pada saraf ischiatic
11.     Perubahan system musculoskeletal, relaksasi pubic akibat relaxin, dll.
12.     Perubahan berat badan.
13.     Perubahan psikologis dan emosi

           PANGGUL

             untuk memahami mekanisme persalinan,terlebih dahulu dibahas mengenai panggul wanita yang
memegang peranan penting dalam peroses kehamilan,persalinan dan kala nifas.

1.Bagian keras yang dibentuk oleh empat buah tulang: 2 tulang pangkal paha (os koksae), 1 tulang    kelangkangan (os.sakrum ), dan tulang tungging (os koksigis),
2.Bagian lunak : diafragma pelvis ,dibentuk oleh:
    a.  pars  muskularis levitor ani, yang terdiri dari:
        . musculus pubokoksigeus dari os pubis ke septum anokoksegeum
        . muskulus iliokoksigeus ,dari arkus tendineus musculus levator ani ke os koksigis dan septum
        . muskulus iskiokogsigeus dari spina iskiadika ke pinggir os sakrum dan os koksigis
  b.  pars membranasea
      . hiatus urogenitalis, terletak diantara kedua muskulus pubokoksigeus,berbentuk segitiga.
      .diafragma urogenitalis, menutupi hiatus orogenitalis, dibagian depannya ditembus oleh uretra dan vagina.
 c.  Regio perenium, merupakan bagian permukaan pintu bawah panggul yang terbagi menjadi:
      . Bagian anal: (sebelum belakang), terdapat muskulus sfingter ani eksternum yang mengelilingi anus dan  liang senggama bagian bawah.
 d.  Regio urogenitalis, terdapat muskulus iskiokavernosus dan muskulus trasvernus perineum superfisialis.

Fungsi umum panggul wanita 

1.   Bagian keras panggul wanita terdiri dari dan berfungsi:
      a.  panggul besar (pelvis mayor), menyangga isi abdomen
      b.  panggul kecil (pelvis minor), membentuk jalan lahir dan tempat alat genitalia

2.   Bagian lunak panggul wanita berfungsi
      a.   Membentuk lapisan dalam jalan lahir.
      b.   Meyangga alat genitalia agar tetap dalam posisi yang normal saat hamil maupun saat kala nifas.
      c.   Saat  persalinan, berperan dalam proses pelahiran dan kala uriA. Panggul terdiri atas 
1. Bagian keras yang dibentuk oleh tulang
2. Bagian yang lunak dibentuk oleh otot – otot dan ligamentum

C Tulang pangkal paha (ossa coxae) terdiri dari
a. Tulang usus (os ilium)
1. Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan belakang dari panggul.
2. Bagian atas merupakan pinggir tulang yang tebal yang disebut crista iliaca.
3. Ujung depan maupun belakang dari crista iliaca menonjol disebut spina iliaca anterior superior dan spina iliaca posterior superior.
4. Sedikit dibawah spina iliaca anterior superior terdapat tonjolan tulang lagi ialah spina iliaca anterior inferior, sedangkan sebelah bawah spina iliaca posterior superior terdapat spina iliaca posterior inferior.
5. Dibawah spina iliaca posterior inferior terdapat tekik (lekuk) yang disebut incisura ischiadica mayor.
6. Pada os ilium terdapat lajur ialah linea innominata (linea terminalis) yang menjadi batas antara panggul besar dan panggul kecil.

b. Tulang duduk (os ischium)
1. Terdapat sebelah bawah dari tulang usus
2. Pinggir belakang berduri disebut Spina Ischiadica
3. Dibawah spina ischiadica terdapat incisura ischiadica minor. Pinggir bawah tulang duduk sangat tebal, bagian inilah yang mendukung berat badan kalau kita duduk dan disebut tuber ischiadicum.

c. Tulang kemaluan (os pubis)
1. Terdapat sebelah bawah dan depan dari tulang usus. Dengan tulang duduk, tulang ini membatasi sebuah lubang dalam tulang panggul yang disebut foramen obturatorium.
2. Tangkai tulang kemaluan yang berhubungan dengan tulang usus disebut rasmus superior ossis pubis.
3. Sedangkan yang berhubungan dengan tulang duduk disebut rasmus inferior ossis pubis.
4. Rasmus inferior kiri dan kanan membentuk arcus pubis.

D. Tulang kelangkang (os sacrum)
1. Berbentuk segitiga
2. Melebar diatas dan meruncing kebawah
3. Terletak sebelah belakang antara kedua pangkal paha
4. Terdiri dari 5 ruas tulang bersenyawa
5. Permukaan depannya cekung dari atas kebawah maupun dari samping ke samping
6. Kiri dan kanan dari garis tengah nampak lima buah lobang disebut foramina sacralia anteriora.
7. Lubang ini dilalui urat –urat syaraf yang akan membentuk flexus dan pembuluh darah kecil
8. Flexus sacralis ini melayani tungkai, oleh karena itu kadang-kadang penderita merasa nyeri atau kejang di kaki, kalau flexus sacralis ini tertekan pada waktu kepala turun ke dalam rongga panggul.
9. Permukaan belakang tulang kelangkang gembung dan kasar. Di garis tengahnya terdapat deretan duri disebut crista sacralis
10. Ke atas tulang kelangkang berhubungan dengan ruas ke 5 tulang pinggang
11. Bagian atas dari sacrum yang mengadakan perhubungan ini menonjol ke depan disebut promontorium.

E. Tulang tungging (os coxigis)
1. Berbentuk segitiga dan terdiri atas 3-5 ruas bersatu
2. Pada persalinan ujung tulang tungging dapat ditolak sedikit ke belakang, hingga ukuran pintu bawah panggul bertambah besar

F. Ruang Panggul (Pelvis Cavity)
(1) Pelvis major (false pelvis)
(2) Pelvis minor (true pelvis)
Pevis major terletak di atas linea terminalis yang di bawah disebut pelvis minor.

G. Pintu Panggul
(1) Pintu atas panggul (PAP) = Disebut Inlet dibatasi oleh promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis.
(2) Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadica, disebut midlet
(3) Pintu Bawah Panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis, disebut outlet
(4) Ruang panggul yang sebenarnya (pelvis cavity) berada antara inlet dan outlet.

H. Inklinasi panggul / miring panggul
yaitu sudut antara pintu atas panggul dengan bidang sejajar tanah, pada wanita yang berdiri sudut ini 55 derajad.

I. Menentukan ukuran panggul
Ukuran panggul dapat ditentukan secara:
1. Klinik (pelvimetri klinik)
2. Rontgen pelvimetri

1. Pelvimetri Klinik
Pintu atas panggul
Ukuran terpenting dari pintu atas panggul adalah konjugata vera yang dapat diukur secara tidak langsung yaitu dengan mengukur konjugata diagonalis dengan pemeriksaan dalam:
1,5 – 2 cm (CV = CD – 1,5)

Pada panggul yang normal promontorium tidak dapat diraba dengan pemeriksaan dalam karena konjugata diagonalis cukup panjang. Sedangkan pada panggul yang sempit promotorium dapat diraba.

Pintu atas panggul dianggap normal bila:
a. CD > 11,5 cm
b. Multigravida dengan riwayat obstetric yang baik
c. Pada primigravida setelah kehamilan 36 minggu, kepala sudah masuk pintu atas panggul

Ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul
1. Pemeriksaan luar: Leopold IV divergen
2. Pemeriksaan dalam:
Jarak bidang pintu atas panggul sampai spina iskhiadika adalah 5 cm, jarak bidang biparietal adalah 3-4 cm. Maka jika bagian terendah kepala sudah mencapai spina iskhiadika atau lebih rendah, berarti ukuran terbesar kepala sudah melewati pintu atas panggul.

J. Ukuran – ukuran panggul
Ukuran-ukuran luar tak dapat dipergunakan untuk penilaian,apakah persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak. Walaupun begitu ukuran-ukuran luar dapat memberikan petunjuk pada kita akan kemungkinan panggul sempit.

Ukuran luar yang terpenting ialah:
1. Distantia spinarum :
Jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan (Ind. 23, Er. 26), kurang lebih 24 – 26 cm
2. Distantia cristarum :
Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kira (Ind. 26, Er. 29), kurang lebih 28 – 30 cm.
3. Conjugata externa (Baudeloque) :
Jarak antara pinggir atas symphysis dan ujung prosessus spinosus ruas tulang lumbal ke-V (Ind. 18, Er. 20), 18 cm.
4. Ukuran lingkar panggul :
Dari pinggir atas symphysis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior dan trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat – tempat yang sama di pihak yang lain (Ind. 80, Er. 90), kurang lebih 10,5 cm.

Ukuran dalam panggul :
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, linea inniminata, dan pinggir atas simfisis pubis
1. konjugata vera : dengan periksa dalam diperoleh konjugata diagonalis 10,5-11 cm
2. konjugata transversa 12-13 cm
3. konjugata obliqua 13 cm
4. konjugata obstetrica adalah jarak bagian tengah simfisis ke promontorium

K. Jenis Panggul 
Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk pintu atas panggul, ada 4 bentuk pokok jenis panggul :
(1) Ginekoid : paling ideal, panggul perempuan, diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa bulat : 45%
(2) Android : panggul pria, PAP segitiga, diameter transversa dekat dengan sacrum. segitiga : 15%
(3) Antropoid : agak lonjong seperti telur, diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa.
(4) Platipeloid : picak, diameter transversa lebih besar daripada diameter anteroposterior, menyempit arah muka belakang : 5%

L. Perbedaan bentuk panggul pria dan wanita
1. Pada wanita, dinding pelvis spurium dangkal, SIAS menghadap ke ventral. Pada pria, dinding pelvis spurium tajam / curam, SIAS menghadap ke medial.
2. Pada wanita, apertura pelvis superior berbentuk oval. Pada pria, apertura pelvis superior berbentuk heart-shaped, lengkung, dengan promontorium os sacrum menonjol ke anterior.
3. Pada wanita, pelvis verum merupakan segmen pendek suatu kerucut panjang. Pada pria, pelvis verum merupakan segmen panjang suatu kerucut pendek.
4. Pada wanita, ukuran-ukuran diameter rongga panggul lebih besar (perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5 cm) dibandingkan ukuran-ukuran diameter rongga panggul pria.
5. Pada wanita, apertura pelvis inferior berbentuk bundar, diameter lebih besar. Pada pria, apertura pelvis inferior berbentuk lonjong dan kecil.
6. Pada wanita, angulus subpubicus adalah sudut lebar / besar. Pada pria, angulus subpubicus merupakan sudut tajam / kecil.

M. Sumbu Panggul
Sumbu panggul adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah ruang panggul yang melengkung ke depan (sumbu Carus)

Bidang-bidang :
(1) Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium
(2) Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis.
(3) Bidang Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri.
(4) Bidang Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis

N. Bagian Lunak Panggul
Terdiri atas otot, ligamentum dan fascia, yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi panggul sebelah bawah (dasar panggul)
1. Lapisan luar.
• M.sfingter ani ekternus, yang mengelilingi anus.
• M. Bulbokavernosus, yang mengelilingi vulva.
• M. Transversus parinea suferfisialis.
2. Lapisan tengah
• M. Transversus parinea profundus.
• M. Stingfer uretra.
3. Lapisan dalam (diafragma pelvis)
• M. Pubokoksigeus.
• M. Iliokoksigeus.
• M. Koksigeus.

sumber
1. Winkjosastro. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta;2002.
2. Cunningham. Obstetric Williams. penerbit buku kedokteran ECG, Jakarta;2006.
3. IBG Manuaba dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta;2006
4. Salmah, dkk. Asuhan kebidanan antenatal EGC. Jakarta;2006
5. Varney. Varney midwifery. Jakarta;1997.
6. Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.

           


.

 


          

....